Kenali coding agent dan context window

Coding agent dapat membaca project, mengubah file, menjalankan command, membuka browser, dan melaporkan hasilnya. Ia bekerja menggunakan informasi yang tersedia dalam conversation dan file project.

Anggap satu conversation sebagai satu meja kerja. Semua pesan, jawaban, hasil command, percobaan, dan koreksi ditumpuk di meja tersebut. Semakin banyak hal yang tidak berkaitan ditaruh di sana, semakin sulit agent menjaga fokus.

Apa itu context window?

Context window adalah jumlah informasi yang dapat dipertimbangkan agent pada satu waktu. Conversation merupakan bagian besar dari context tersebut, bersama instruksi, skill, file yang dibaca, dan hasil tool.

Context yang panjang tidak selalu buruk. Satu pekerjaan rumit memang dapat membutuhkan banyak informasi. Masalah muncul ketika context dipenuhi tugas lama, percobaan yang sudah tidak berlaku, dan pembahasan yang tidak berhubungan.

Istilah yang umum digunakan adalah:

  • context pollution: context dipenuhi informasi yang tidak lagi relevan;
  • context drift: fokus perlahan bergeser dari tujuan awal;
  • context rot: kemampuan menemukan dan menggunakan informasi yang tepat menurun ketika context semakin panjang dan padat.

Prinsip Planora: satu tugas, satu conversation

Gunakan conversation terpisah untuk tujuan yang berbeda, meskipun file atau fiturnya sama.

Contoh alur yang baik:

text
Conversation 1: /planora-next membuat halaman profilConversation 2: /e2e-tester memvalidasi halaman profilConversation 3: /bug memperbaiki error upload foto profilConversation 4: /e2e-tester menguji ulang setelah perbaikan

File yang dibuat pada conversation sebelumnya tetap berada di project. Agent baru dapat memahami kondisinya melalui file, Git diff, TODO Planora, spec E2E, dan pesan awal yang kamu berikan. Kamu tidak perlu menyalin seluruh conversation lama.

Kapan tetap memakai conversation yang sama?

Tetap gunakan conversation yang sama ketika:

  • agent masih mengerjakan satu task dan meminta jawaban;
  • kamu sedang mengoreksi hasil sebelum task dinyatakan selesai;
  • test task tersebut gagal dan agent masih memperbaikinya;
  • kamu memberikan informasi yang memang dibutuhkan untuk menyelesaikan scope yang sama.

Agent yang membuat sebuah fitur bertanggung jawab menyelesaikan error yang ia temukan selama proses implementasi. Jangan meninggalkan task setengah jadi hanya untuk mendapatkan context baru.

Kapan membuka conversation baru?

Buka conversation baru ketika:

  • task sebelumnya sudah dinyatakan selesai;
  • kamu menemukan bug setelah mencoba hasil yang selesai;
  • kamu ingin mengerjakan fitur berikutnya;
  • kamu ingin menjalankan E2E atau review terpisah;
  • topik berubah dari implementasi menjadi perubahan requirement;
  • agent mulai mengulang argumen, kehilangan fokus, atau terus mempertahankan solusi yang tidak bekerja.

Conversation baru membantu agent melihat masalah dari sudut pandang baru. Namun, context bersih bukan berarti prompt boleh kosong. Berikan tujuan, expected result, actual result, error, screenshot, dan file handoff jika ada.

Cara memulai conversation baru

Gunakan format sederhana:

text
/bug
Task sebelumnya membuat halaman profil dan sudah dilaporkan selesai. Sekarangsaya menemukan masalah berikut: [JELASKAN MASALAH]. Seharusnya [EXPECTED], tetapiyang terjadi [ACTUAL]. Periksa kondisi project dan Git; jangan mengandalkanasumsi dari conversation sebelumnya.

Untuk E2E, cukup berikan spec:

text
/e2e-tester specs/e2e/NAMA-FILE.md

Jangan meminta agent menilai dirinya sendiri tanpa bukti

Agent dapat cenderung mempertahankan keputusan yang sudah dibuat dalam conversation yang sama. Karena itu Planora memisahkan implementasi, UI review, dan E2E. Minta bukti berupa hasil test, browser evidence, atau file yang dapat diperiksa—bukan sekadar keyakinan agent bahwa pekerjaannya benar.

Lanjut ke coding behavior yang perlu kamu awasi.

Jika ingin memahami alasan teknis di balik kebiasaan ini, baca artikel opsional Effective context engineering for AI agents.